Rabu, 19 Oktober 2016

Contoh Thread Pada Linux Ubuntu

THREAD Pada Linux Ubuntu

Thread adalah bagian kecil dari proses, biasa disebut light proses (proses ringan). Seperti yang kita ketahui, proses akan menjalankan satu persatu command yang ada didalamnya dari atas kebawah. Jadi command yang berada dibawah harus menunggu command atas selesai baru bisa dijalankan. Dengan adanya thread ini, kita bisa menjalakan command bawah tanpa harus menunggu command atas selesai. Dengan kata lain, bersamaan.
Hampir semua aplikasi di dunia ini menggunakan teknik thread. Contohnya Ms.Word. Di Ms.Word selagi kita meningputkan kata dan kalimat, ada proses yang menampilkan inputan kita, disisi lain ada proses yang mengecek spelling inputan kita. Contoh lainnya adalah game balapan. Pada saat kita sedang bermain ada proses yang merender lintasan balap, ada proses yang mengecek posisi urutan kendaraan kita, ada proses yang menampilkan speed, dan Itu dilaksanakan secara bersamaan.


Membuat Thread Sendiri
langsung saja kita praktekan cara membuat thread.
Penulis akan memberikan contoh program music player sederhana. Menggunakan media player VLC  dan bahasa c

#include<stdio.h>
#include<stdlib.h>
#include<string.h>
#include<pthread.h>
#include<unistd.h>

pthread_t tid[1];
int choice;
char lagu[100], tmp[1000];
int length;

void stop()
{
    int i;
    for(i=1;i<=length;i++)
    {
        sleep(1);    
    }
    system("pkill vlc");
    system("clear");

}

void cont()
{
    int i;
    for(i=1;i<=length;i++)
    {
        sleep(1);      
    }
    system("pkill -SIGCONT vlc");
    system("clear");

}

void pos()
{
    int i;
    for(i=1;i<=length;i++)
    {
        sleep(1);    
    }
    system("pkill -SIGSTOP vlc");
}
void menu()
{
    printf("2 - Melihat Play list\n");
    printf("3 - Play Lagu\n");
    printf("4 - Pause Lagu\n");            
    printf("5 - Continue Lagu\n");
    printf("6 - Stop Lagu\n");
}

void *play(void *args)
{
    system("clear");
    snprintf(tmp, sizeof(tmp), "cvlc ~/Modul3/1/Playlist/%s.mp3",lagu);
    system(tmp);
    system("clear");
}

int main(){    int i=0;    int err;    int ke=0;    char temp;     printf("Selamat datang di COntoh Music Player\n");    printf("Tekan 1 untuk melihat menu");      while (1)    {        printf("\n1 - Help\n");        scanf("%d",&choice);        if(choice==1)        {            system("clear");            menu();                }        else if(choice==2)        {            system("clear");            system("ls Playlist | grep mp3");        }
        else if(choice==3)
        {
            system("clear");
            system("pkill vlc");
            printf("Masukan Judul Lagu : ");
            memset(lagu,0,sizeof(lagu));  
            scanf("%s",lagu);
            err=pthread_create(&(tid[choice]),NULL,&play,NULL);
            if (err!=0)
            printf("Cant create thread : [%s] ",strerror(err));
        }

        else if(choice==4)
        {            printf("Input waktu Pause : ");            scanf("%d",&length);            pos();            system("clear");        }
        else if(choice==5)
        {
            printf("Input waktu Continue : ");
            scanf("%d",&length);
            cont();
            system("clear");
        }

        else if(choice==6)
        {
            printf("Input waktu stop : ");
            scanf("%d",&length);
            stop();  
        }

        else
        {    system("clear");
            printf("INPUTMU SALAH");
        }
    }
    pthread_join(tid[1],NULL);
    return 0;
}

Jadi ini contoh kodingan threadnya. Program ini meminta kita untuk memilih menu. 
- Tekan 1 akan keluar button menunya, 
- Tekan 2 untuk melihat isi .mp3 yang ada di folder (contoh di atas ada di folder Playlist). 
- Tekan 3 untuk memplay lagu dengan menginput nama lagu. 
- Tekan 4 untuk pause lagu setelah n detik. 
- Tekan 5 resume lagu setelah n detik dan
- Tekan 6 stop lagu.
  
Jadi program ini membutuhkan 2 thread, yakni thread untuk memplay lagu, dan thread untuk menerima inputan user (main)
Pembahasan :

1.
#include<stdio.h>
#include<stdlib.h>
#include<string.h>
#include<pthread.h>
#include<unistd.h>

pthread_t tid[1];

ini adalah header-header yang diperlukan untuk membuat thread.
Bagian pthread_t tid[1] adalah bagian penginisialiasian pembuatan thread kita. Kalau dari contoh diatas kita hanya perlu menambahkan 1 thread, makanya disini tid[1].

2.
 void *play(void *args)
{
    system("clear");
    snprintf(tmp, sizeof(tmp), "cvlc ~/Modul3/1/Playlist/%s.mp3",lagu);
    system(tmp);snprintf(tmp, sizeof(tmp), "cvlc ~/Modul3/1/Playlist/%s.mp3",lagu);
    system("clear");
}

ini adalah fungsi dimana letak thread play lagu nantinya. void *play(void *args) adalah syntax dari pembuatan thread, dimana return value dan passing parameter fungsinya berupa void berpointer (void *) .
 snprintf(tmp, sizeof(tmp), "cvlc ~/Modul3/1/Playlist/%s.mp3",lagu);
instruksi diatas adalah instruksi dimana kita akan memplay lagu. cvlc adalah syntax bawaan VLC untuk memplay lagu, dan ~/Modul3/1/Playlist/%s.mp3 adalah letak dimana lagu itu berada. (Contoh di atas ada di folder Modul3->1->Playlist).

3.
 else if(choice==3)
        {
            system("clear");
            system("pkill vlc");
            printf("Masukan Judul Lagu : ");
            memset(lagu,0,sizeof(lagu));  
            scanf("%s",lagu);
            err=pthread_create(&(tid[0]),NULL,&play,NULL);
            if (err!=0)
            printf("Cant create thread : [%s] ",strerror(err));
        }

Bagian ini adalah bagian dimana thread akan dibuat. Tepatnya di
 err=pthread_create(&(tid[0]),NULL,&play,NULL);
Intruksi ini akan membuat thread dan menaruhnya di fungsi play tadi. err adalah variable tampung untuk pthread_create ini.
 if (err!=0)
printf("Cant create thread : [%s] ",strerror(err));
Intruksi ini berfungsi untuk jika thread gagal dibuat akan menampilkan pesan error "Cant create thread

4.
 pthread_join(tid[0],NULL);
Intruksi diatas berfungsi untuk menahan agar proses utama (main) tidak selesai. Karena jika proses utama selesai maka thread juga akan ikut selesai. (Dalam kasus ini lagu akan mati sebelum lagu selesai dimainkan).





 Selamat Mencoba :)

Senin, 03 Oktober 2016

Softskill Statistika 2KB05 Pertemuan I

Download PDF nya Disini




  • Rata Rata (mean)

  • Median

  • Modus

Modus dari data di atas adalah usia 41-50 karena frekuensi paling tinggi

  • Jangkauan Wilayah

Data terbesar = 17
Data terendah = 1
Range = 17 – 1 = 16


  • Ragam

  • Simpangan Baku













Rabu, 20 April 2016

RAGAM BAHASA INDONESIA

A. Pengertian Ragam Bahasa
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik , yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku. 
     B.  Macam – macam ragam bahasa

1.    Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media
Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang sering disebut sebagai kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata baku bahasa Indonesia, memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi didalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.
Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980). Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media dibagi menjadi dua yaitu :
          a) Ragam bahasa lisan
Adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Ciri-ciri ragam lisan :
1    -  Memerlukan orang kedua/teman bicara;
2    - Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
      -Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
            - Berlangsung cepat;
            -  Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
            - Kesalahan dapat langsung dikoreksi;
     -Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
    Yang termasuk dalam ragam lisan diantaranya pidato, ceramah, sambutan, berbincang-bincang, dan masih banyak lagi. Semua itu sering digunakan kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari, terutama ngobrol atau berbincang-bincang, karena tidak diikat oleh aturan-aturan atau cara penyampaian seperti halnya pidato ataupun ceramah.
     b) Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat, karya ilmiah, surat kabar, dll. Dalam ragam bahsa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah.
Ciri Ragam Bahasa Tulis :
1    -Tidak memerlukan kehadiran orang lain.
2     - Tidak terikat ruang dan waktu
3.      Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat
4.       Pembentukan kata dilakukan secara sempurna,
5.      Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap, dan
6.      Paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu.
7.      Berlangsung lambat
8.      Memerlukan alat bantu


2.      Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur

a.       Ragam Bahasa Berdasarkan Daerah (logat/diolek)
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan “b” pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dan lain-lain. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan “t” seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.
b.      Ragam Bahasa berdasarkan Pendidikan Penutur
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
c.       Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
Bahasa baku dipakai dalam :
1.        Pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran.
2.        Pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat.
3.        Komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang.
4.        Wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.

3.      Ragam Bahasa menurut Pokok Pesoalan atau Bidang Pemakaian

Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama. Koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran. Improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran atau majalah dan lain-lain.

BAB II
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan bahasa baku tulis. Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan Ejaan bahasa yang telah Disempurnakan (EYD), sedangkan untuk ragam bahasa lisan diharapkan para warga negara Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa Indonesia dengan baik serta bertutur kata sopan sebagaimana pedoman yang ada.
           B. Saran
Sebagai warga negara Indonesia, sudah seharusnya kita semua mempelajari ragam bahasa yang kita miliki, kemudian mempelajari dan mengambil hal-hal yang baik, yang dapat kita amalkan dan kita pakai untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.



                                

Selasa, 05 Januari 2016

11 Daftar Penyakit Mengerikan Akibat Terlalu Lama Menggunakan Smartphone

Harga HP Android bervariasi, mulai dari harga murah hingga harga yang mahal. Kebanyakan smartphone yang beredar saat ini berbasis sistem operasi Android. HP Android murah yang menyasar pengguna kelas entry-level biasanya didominasi oleh produsen smartphone lokal, seperti Smartfren, Nexian, Mito, dan Evercoss. Sementara HP Android mahal untuk pengguna kelas menengah ke atas biasanya dipegang oleh merk-merk ternama, seperti Samsung, LG, Sony, HTC, Xiaomi, Asus, dan Oppo.
Dengan bervariasinya harga HP Android tersebut, masyarakat dapat dengan mudah memiliki smartphone. Mulai dari kalangan anak-anak, dewasa, pekerja, atau orang tua. Seperti kita ketahui, smartphone saat ini sudah menjadi kebutuhan hidup yang tidak bisa dipisahkan. Kemana pun kita pergi, biasanya smartphone tidak pernah ketinggalan, bahkan di saat kita mau tidur sekali pun. Namun, tahukah kamu bahwa dengan berlama-lama menggunakan smartphone memiliki dampak negatif bagi kesehatan tubuh kita? Nah dalam kesempatan kali ini kami menyajikan beberapa dampak negatif akibat berlama-lama menggunakan smartphone.bahaya smartphone 1

Dampak Negatif Menggunakan Smartphone

1. Penglihatan terganggu

Dengan berlama-lama melihat layar smartphone bisa mengakibatkan penglihatan kita terganggu. Dalam dunia kedokteran gangguan penglihatan ini disebut Computer Vision Syndrome (CVS) dengan gejala mata kering karena jarang berkedip. Untuk mencegahnya, kurangi durasi memandangi layar smartphone, hindari menggunakan smartphone di tempat gelap yang memicu otot dan syaraf mata bekerja lebih berat, atau tidak menggunakan smartphone dalam posisi miring atau sambil tiduran.

2. Pandangan Kabur

Lama memandangi layar smartphone membuat otot mata menjadi tegang. Otot mata yang tegang biasanya tidak mampu fokus dengan cepat pada jarak yang berbeda. Kondisi ini biasa disebut Blurry Vision. Mengatasinya, jika kamu habis memandangi layar smartphone yang cukup lama, pejamkan mata terlebih dahulu sebelum sekitar 10 detik sebelum memandang ke arah yang berbeda.

3. Sakit Kepala

Akibat posisi leher yang salah dan otot mata yang tegang karena sering melihat layar smartphone bisa juga menimbulkan sakit kepala. Selain itu, kemungkinan terburuknya dapat mengakibatkan rabun jauh. Untuk meminimalisir kemungkinan buruk tersebut bisa dengan istirahat yang cukup, kurangi melihat layar smartphone dalam waktu lama, usahakan jarak mata terhadap smartphone tidak terlalu dekat (kurang dari 20 cm).

4. Kelainan Postur Tubuh

Menggunakan smartphone berlama-lama dengan posisi badan tidak benar dapat mengakibatkan kelainan postur tubuh. Misalnya menggunakan smartphone sembari duduk dengan posisi tulang belakang terlalu membungkuk ke depan. Kelainan postur tubuh atau penyakit degeneratif ini biasanya banyak ditemui pada usia lanjut, sekitar 40 hingga 50 tahun ke atas.
bahaya smartphone 3

5. Gangguan Pendengaran

Selain digunakan untuk bermain game, browsing, atau media sosial, smartphone juga digunakan untuk memutar musik dengan earphone. Mendengarkan musik menggunakan earphone dengan volume speaker terlalu tinggi bisa mengakibatkan pendengaran terganggu. Mendengarkan musik dengan volume kencang biasanya dilakukan saat mengendarai motor atau di tempat keramaian.

6. Mengganggu Tidur

Keasyikan browsing, media sosial, chatting, atau bermain game biasanya berlanjut hingga larut malam. Hal ini tentunya waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Suara "ting" dari notifikasi pesan masuk di ponsel juga bisa membuat kualitas tidur menjadi terganggu. Kurangnya istirahat secara terus-menerus dapat membuat ketahanan tubuh menjadi berkurang, akhirnya gampang terserang penyakit. Untuk itu, matikan smartphone saat menjelang tidur agar dapat istirahat dengan tenang.

7. Mengurangi Produktivitas

Selain untuk komunikasi, smartphone sejatinya dapat menunjang produktivitas penggunanya dalam kehidupan sehari-hari, seperti menerima dan membalas email, browsing internet, membuat dokumen tulisan, dan lain sebagainya. Namun lain halnya jika smartphone hanya digunakan untuk media sosial (Facebook, Twitter, Path, Instagram, dll) dan bermain game. Apalagi jika bermain game hingga lupa waktu seperti bermain Clash of Clans misalnya. Bisa dipastikan produktivitas kamu bisa berkurang karena tidak sempat lagi mengerjakan hal lain yang lebih produktif.

8. Merusak Otak

Sejauh ini memang dampak buruk dari radiasi ponsel terhadap kesehatan tubuh masih menjadi kontroversi. Namun beberapa penelitian mengatakan bahwa radiasi ponsel dapat memicu tumbuhnya tumor otak dan penyakit insomnia. Yang paling banyak dialami saat ini adalah menatap ponsel berlama-lama dapat menyebabkan rasa mual dan sakit kepala.

9. Menimbulkan Kecanduan

Berkat perkembangan teknologi terus meningkat membuat smartphone dapat melakukan banyak fungsi. Kamu dapat dengan mudah menerima dan membalas e-mail, chatting, berselancar di internet, menonton video, mendengarkan musik, bermain game, atau berinteraksi di media sosial. Kemudahan-kemudahan ini disinyalir dapat menimbulkan kecanduan sehingga hampir setiap menit kita bisa mengecek ponsel apakah ada pesan masuk atau tidak. Penelitian yang dilakukan tim dari Rutgers University menyebutkan, untuk menyembuhkan pecandu smartphone, terapi yang digunakan sama seperti terapi untuk pecandu narkoba.bahaya smartphone 2

10. Susah Tidur

Layar smartphone cenderung mengeluarkan cahaya biru, entah benar atau tidak warna biru tersebut diduga dapat mengganggu hormon manusia untuk tidur. Mengurangi kecerahan layar smartphone saat menggunakannya di malam hari bisa jadi mengurang resiko susah tidur kamu.

11. Kurang Peduli Terhadap Lingkungan Sekitar

Pada saat menggunakan smartphone, biasanya hampir seluruh konsentrasi pikiran kita tertuju pada smartphone dan tanpa memedulikan keaadaan sekitar. Parahnya lagi, banyak orang yang menggunakan smartphone pada saat mengendarai mobil atau motor, saat menyebrang jalan, atau menaiki eskalator yang dapat menimbulkan bahaya terhadap pengguna smartphone ini sendiri.